GENGGONG- Dua hari sebelumnya, beras analog produk santri SMA Unggulan Haf-Sa mampu menyabet juara 1, ajang internasional di Phatthalung, Thailand. Kali ini beras analog masih tetap teruji, di ajang “PCCST International Science Fair” pada Kamis (17/01/2019) mampu meraih juara 2 pada ajang yang juga diikuti 4 negara di Thailand itu.

Namun, ada sedikit perbedaan antara lomba yang digelar di Provinsi Phatthalung dengan yang di Provinsi Satun. Untuk lomba yang ke dua ini lebih spesifik. Beras analog, karya santri SMAU ini menjadi satu-satunya tim Indonesia yang harus bersaing dengan 2 tim lainnya yang diwakili Thailand dan Malaysia di bidang biologi.

Menurut ustadzah Yenny Rahma, S.Pd, guru pendamping, Lomba kali ini diuji langsung oleh profesor ahli biologi dengan pertanyaan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. “Alhamdulillh karena ketika sesi tanya jawab mereka bisa menjawab dengan baik. Pertanyaannya HOTS, jadi meraih runner up saya tetep bersyukur,” akunya.

Ustadzah Yenny menambahkan, beras analog menurut profesor penguji, beras analog produk SMAU ini bisa dipromosikan sebagai beras organik. “Ini laku nih kalau di Thailand, hanya saja harganya terlalu mahal 100 gram, 20 bath,” ungkapnya, menirukan profesor penguji.

Kepala sekolah saat dikonfirmasi mengaku sangat terharu atas pencapaian istimewa santri SMAU. Baginya, prestasi ini tidak lepas dari usaha keras dan barokah masyayikh Genggong. Ini sangat luar biasa, barokah kiai sepuh sangat nampak dirasakan,” ungkapnya.

Menurut ustadz Inzah, pencapaian anak ddidiknya di Thailand ini di luar ekspektasinya. Dua juara internasional, 1st Runner Up kategori Oral Presentation di Princess Chulabhorn’s College, Satun-Thailand (PPCST) dan Gold Medal Award , The Highest Score
di ajang “The Second Phattalung International Science Fair 2019”. “Tidak kebayang sebelumnya, kita bisa meraih juara 1 dan 2 tingkat internasional sekali jalan. amazing,” pungkasnya. (Fid)