GENGGONG- Siapa sangka 3 santri SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong mampu menggoreskan tinta emasnya di kancah internasional pada ajang The second Phatthalung International Science Fair 2019 dan PCCST International Science Fair 2019 di Thailand. Beras analog karya santri yang diyakini dapat mencegah kangker dan diabetes ini mampu menyisihkan 26 kontestan dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam yang berlangsung sejak 15-19/01/2019 dan sekaligus memantapkan diri meraih juara 1 dan 2 pada ajang ini.

Belasan wartawan dari berbagai media tampak menunggu kehadiran mereka. Seluruh santri Hafshawaty berjejer di kanan-kiri jalan dari gerbang pesantren sampai halaman kediaman kepala pondok Hafshawaty, Ning Hj. Hasanatud Daroini, S.Pd.I. Sesaat kemudian ketiga santri ini tiba, mereka langsung diarak ke masjid pondok setempat untuk mendapatkan sambuatan dan penghargaan dari pengasuh pesantren. Bacaan tola’al badru terus dilantunkan mengiringi kehadiran mereka.

Seusai acara sambutan, para awak media ini diberi kesempatan untuk liputan langsung demo pembutan beras analog ala santri SMAU di halaman sekolah. Tampak ketiga santri yang didampingi pembinanya ini dengan lihai menerangkan komposisi pembuatan beras analognya. “Ini terbuat dari bahan-bahan yang tersedia disekitar kita, salah satunya semacam ubi-ubian dan kelor,” jelas Nanik Nur Laily.

Pencapaian prestasi gemilang ini sangat diapresiasi oleh Ketua Yayasan Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH,. MM. Beliau menyambut langsung kedatangan mereka di halaman Pondok Hafshawaty putri, dan mengalunghkan seuantai bunga sebagai tanda penghargaan pada mereka. Dalam sambutannya, di hadapan ratusan santri beliau mengaku bangga pada ketiga santri yang telah mengharumkan nama pesantren. “Ini merupakan hadiah spesial ulang tahun Pesantren Genggong yang ke-180 tahun,” akunya.

Kiai berharap prestasi ini akan menjadi inspirasi bagi santri yang lain dan sekaligus menguatkan karaker santri yang tidak hanya alim di bidang keagamaan tapi juga mahir di bidang teknologi dan sains. Bagi beliau ini adalah langkah utama dan garda terdepan untuk program nawacita pemerintah yang salah satunya penguatan karakter. “Insyaallah IQ dan SQ santri cerdas, sehingga emosinya bisa dikontrol. Sebelum menerima ilmu teknologi dan lainnya, imannya sudah diinstall dulu, sehingga ilmunya tidak akan dikuasai nafsunya,” jelasnya.

Beliau menambahkan pada intinya lembaga pesantren merupakan lembaga pendidikan juga syiar agama. Pesantren ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan sejarah berdirinya bangsa. karena pendiri pertama, kiai Moh. Hasan dengan karisma dan pengaruhnya digunakan dengan baik untuk melawan penjajah merebut dan mempertahankan kemerdekaan baik dari Belanda, Jepang maupun sekutu. “Justru itu nasionalisme di pesantren ini disamping membentuk santri yang religius juga sangat terpatri keteladan dan ajaran para pendirinya,” tuturnya. (fid)